I write to express. I write to look back and taste life twice (or thrice, or more!)
Minggu, September 18, 2016
Dokter, makasih ya doanya..
Waktu stase poli, datang seorang ibu dengan keluhan keluar darah dari jalan lahir. Pasien kemudian di USG, ternyata ibu ini keguguran, tapi bayinya masih di dalam kandungan. Istilah kedokterannya missed abortion. Nah kebetulan koass stase Obgyn di Tulungagung diwajibkan bikin 2 laporan kasus. Karena kasusnya cukup full blown, aku minta pasien ini dijadikan laporan kasusku. Otomatis pasien ini nantinya harus aku follow up dari hari pertama ngamar, operasi, sampai pulang.
Sorenya aku mampir ke ruang Melati, buat follow up pasienku dan baca status rekam medisnya.
Pasien (P): Loh dokter kok tau saya disini?
Tya(T): Tadi saya tanya ke perawatnya bu.. Gimana sekarang keadaannya bu? Ada keluhan apa?
P: Sudah enggak ada dokter..
T: Rencananya kapan mau dikuret bu?
P: Katanya sih besok dokter. Tapi enggak dikasi tau jam berapa..
T: Tapi udah disuruh puasa kan bu?
P: Iya nanti jam 2 malam berhenti makan, terus jam setengah 5 mulai puasa minum.. Dokter terima kasih ya supportnya
T: (dalam hati:padahal aku enggak ngapa-ngapain, cuma dateng dan ngobrol-ngobrol.. Itupun karena lapsus). Iya bu.. Sekarang yang penting ibunya sehat ya.. Semoga besok lancar ya bu operasinya.
P: Iya dokter, makasih..
Besoknya enggak sempat follow up, ga sempat juga ikut operasi gara-gara telat turun poli. Pas sampai di OK, operasinya udah selesai. Sedih. Padahal pengen banget ikutan ngeliat operasinya.
Hari ini (13 Februari) stase ruangan. Dan ketemu lagi sama ibu itu waktu ikut visite. Waktu liat aku ibunya langsung senyum dan bilang, 'Dokter, makasih ya doanya..'
Terharuuu..
T: Ibu sekarang keluhannya apa?
P: Sudah enggak ada dok..
T: Enggak keluar darah lagi?
P: Cuma kemaren pas habis operasi keluar darah pas pipis. Terus abis itu udah enggak lagi.
Aku ingat setelah itu, saat aku jalan pulang ke mess sendirian lewat lorong RS dr Iskak yang bersih dan banyak bunga-bunga #apasih, my mind was thinking, 'Begini ya rasanya jadi dokter..'. Walaupun waktu itu aku sama sekali enggak ikut andil dalam diagnosis dan terapi pasien, tapi saat melihat pasien bisa pulih rasanya senang sekali. And imagine how wonderful your life will be, by living this job for the rest of your life!
Jumat, September 16, 2016
2
The truth is,
It wasn't that hard.
It wasn't that scary.
It wasn't that emotional.
Good communication really did fix almost everything.
And I thank You, for winning my battle.
Malang, September 16th 2016
Kamis, September 08, 2016
1
You planned it well
You was doing it good
You might fall a little
Your execution might had some flaws
But this is how you learn
This is how you grow
Senin, Agustus 29, 2016
Next Level
Saking amannya jaga malam ini, akhirnya baca-baca lagi postingan jaman maba. Oh my, it's been almost 5 years. Aku kira step terberat sudah aku lewati waktu itu. Nyatanya setiap tahap selalu ada tantangan baru. Di tahap preklinik tantangan terberat mungkin UTS dan UAS, kepanitiaan, dan TA. Saat masuk tahap klinik, tantangannya berubah lagi jadi lebih advanced. Enggak cuma ujian, enggak cuma menghafal, tapi juga kemampuan komunikasi, kemampuan bertahan walaupun dibanting-banting dan diinjak-injak (mentally), kemampuan begadang, kemampuan menahan diri untuk tidak baper, dan lain-lain.
Sama seperti kita yang terus bertumbuh, tantanganpun terus berevolusi sesuai kemampuan kita. Bukan tantangan namanya bila tantangan itu dilalui dengan mudah. Justru kita menyebut suatu tantangan sebagai tantangan karena hal itu baru dan sulit. Tau gak apa yang paling menyenangkan dari sebuah tantangan? Perasaan lega yang luar biasa setelah tantangan tersebut selesai.
Tantangan membuat kita bertumbuh, tantangan membuat kita menyadari bahwa kita ternyata mampu melampaui batas yang kita kira tidak akan pernah kita lampaui. Tantangan membuat kita sadar kalau kita butuh Tuhan.
Minggu, Agustus 21, 2016
Blind spot
A giant wall around me.
A roaring lion outside it
This wall keeps me safe.
Until I looked into the window
I was manipulated.
They lured my eyes
As they stroke me at my blind spot
They shot me at my weakest point
As my heart fooled me
It tempted me to fall
Don't ever trust your heart
Don't follow that vicious cycle
Of obsessed-disappointed-forgotten
How long will you tremble?
Minggu, Juli 10, 2016
Kehidupan normal
Apa itu kehidupan normal? Sejak jaman awal kuliah dulu aku selalu mendefinisikan kehidupan normal dengan masa-masa liburan di Kupang. Santai, tanpa tekanan, bebas, Sampai beberapa waktu yang lalu pun definisi hidup normalku masih tetap sama. Tapi setelah dipikir-pikir lagi, ternyata kehidupan normal itu dinamis.
Saat ini aku dalam tahap klinik. Banyaknya tekanan di tahap klinik ini kadang membuat aku lelah. Apalagi sekarang aku di lab IPD, yang terbesar dan (kata orang) terberat. Yang paling ngeselin dari IPD adalah masih ada stase hari sabtu. Selama stase junior aku selalu berharap bisa mendapatkan kembali kehidupan normal "di rumah seharian, tanpa ngapa-ngapain". Dan kemarin, saat (puji Tuhan) dapet libur 2 hari full tanpa jaga tanpa stase, malah bingung mau ngapain. Hari pertama libur masih seneng, tapi hari kedua udah bosen. Apakah itu kehidupan normal? Aku rasa tidak.
Tanpa sadar rutinitas di rumah sakit sudah menjadi kehidupan normalku saat ini. Aku sudah terbiasa jaga malam sambil nyicil membuat MR. Aku sudah terbiasa tidur sambil duduk di pojokan lantai IGD. Aku sudah terbiasa memakai jas lab setiap hari. Aku sudah terbiasa menganamnesis dan memeriksa pasien baru. Aku sudah terbiasa memfollow up pasien setiap pagi. Aku sudah terbiasa dibangunkan tengah malam untuk mengerjakan AP dari PPDS. Aku sudah terbiasa jalan di lorong RSSA tengah malam. Aku sudah terbiasa dengan adrenalin rush tiap kali maju MR, minicex, responsi, maupun ujian akhir suatu lab. Aku sudah terbiasa menyiapkan senyuman inosen (cengengesan lebih tepatnya) saat tidak bisa menjawab pertanyaan dari SPV. Aku sudah terbiasa dengan RSSA. Aku sudah terbiasa jadi dek koass. Aku sudah terbiasa jadi koass IPD.
Sama seperti perubahan yang akan selalu terjadi, demikian pula definisi kehidupan normal akan terus berubah. Sekarang tergantung kita, apakah kita mau mendefinisikan kehidupan normal sesuai kondisi kita saat ini, atau mau tetap terlena dengan kenangan kehidupan normal di masa lalu.
Tya pamit mau nyelesain responsi dulu. Sekian.
