Minggu, Juli 13, 2025

Social experiment

I've been trying this dating apps social experiment since early 2024, triggered by my own insecurity and anxiety wkwk. Awalnya karena ngambek sama BAPA. Katanya udah tahun terakhir, tapi kok ga nemu-nemu juga? Tya salah denger ato lagi dihukum nih? 

Ternyata setelah menelisik lebih dalam, banyak hal yang masih harus diperbaiki. Banyak unresolved trauma and pattern yang masih perlu dibereskan sendirian. Okay Tya belajar lagi ya BAPA. Healing is messy, at least for me. How to unlearned the bad habits. Learn to articulate the thoughts and feelings. Belajar untuk menyelesaikan semua (atau setidaknya sebagian besar) unresolved trauma agar tidak menimbulkan trauma untuk anak-anakku nanti.  

Aku coba hipnoterapi, penasaran aja ada ga masalah yang ga aku sadari. Setelah dari sesi itu jadi lumayan tercerahkan (kalo enggak rugi yaaa udah bayar mahal bgt hmmm) . Selama ini aku hidup dengan standar waktuku. Aku pengen semua timeline hidupku berjalan sesuai jadwal. Begitu ada yang terlanbat, atau berpotensi terlambat, aku panik, aku marah dan kesel sama diri sendiri (dan sama BAPA). 

Jadi beberapa bulan ini aku coba lagi mengubah mindset

"Gapapa, ga telat kok kalo umur 30 belom nikah. Daripada diburu-buru target dan menyesal seumur hidup?" 

"Ga kok, ga telat kalo baru gabung komsel di tahun terakhir di Jakarta."

"It's okay to meet new people. Maybe I'll try. Maybe they're not that bad."

"Kayaknya jangan buru-buru melabel sesuatu sebagai red-flag deh tya, coba aja dulu kenalan"

I was happy to see my growth. Sebelumnya aku menganggap diriku socially awkward. Tapi ga juga ternyata. Bisa kok ngobrol banyak dan dalam sama orang baru. Dan gampang banget ternyata. Terlatih juga pas kerja sih, aku selalu menempatkan diri seperti sedang edukasi keluarga pasien. Kayaknya memang aku lebih prefer 1 on 1 session daripada group session. Dann mungkin juga karena mereka total stranger, dan kemungkinan untuk ketemu lagi kecil banget, jadi bebas aja mo cerita apapun.

Proses ini bikin aku sadar juga, betapa aku penuh dengan kecemasan. How slow response and inconsistency trigger my anxiety. I know, need more time to work on it. I learn to communicate it too. Aku ga suka ngeliat diriku sendiri tampak desperate dan sangat butuh validasi orang lain. I've learned to sit in the discomfort rather than searching for the answer and explanation. Lil bit messy here and there but it's okay, it's the part of learning curve. Gapapa walopun sekarang masih sering jadi main sirkus dan jadi badut. Dan yang penting berusaha untuk jadi orang yang available saja. Tidak perlu mengejar, capek. Kalo enggak tertarik yasudah move on saja. Kalo kata therapistku, "go break your heart multiple times" hahahahaa. Iya gapapa kalo mesti ngulang lagi dari awal, satu-satu, pelan-pelan.

So far, combination of my intuition and the work of God were amazingg. Bisa gitu pagi doa, sorenya langsung dijawab. Jawaban 'Tidak' memang biasanya dikirim express. "iya, boleh." nya kapan dong BAPA? 


Jakarta, 13 Juli 2025

ps: called it social experiment so it feels less heartbreaking hahaha. Jujur agak malu ya cerita ginian di blog, tapi gapapa it's the learning curve of being vulnerable wkwk

Senin, Juni 30, 2025

The time has finally come

 

Indah sekali komposisi jaga tya bulan Juli 2025
Oh gini rasanya jadi tamaters...

Btw today is the last day of pulmo :') 
I'll be missing my daily commuting to school session. I'll be missing this phase of slow living sooo much
Hari ini mo berjemur dulu, soalnya mulai besok sampe 1.5 bulan kedepan bakal mengendap di cathlab dan pulang setelah matahari terbenam. 


Hari terakhir commuting jadi pepes wkwk tapi aku happyyy


Lift selfie it is

Lebih nyaman turun di stasiun Klender. Pas balik juga bisa naik JAK26, turun depan stasiun.



Minggu, Juni 29, 2025

PSA



I used to wait for someone to finally start the life I've dreamed of. But not anymore. I start my life now.

Jumat, Juni 13, 2025

Life in a big city

One thing I'll never stop bragging about Jakarta is how easy and convenient the public transportation is. 

Dari dulu aku tinggal di kota kecil. Aku sering naik bemo. Tapi ya opsi transportasi publiknya cuma bemo. Kalo mau ke tempat diluar jalur bemo ya harus ada kendaraan atau jalan kaki. Dulu rumahku juga lumayan jauh dari jalur bemo. Jadi sekolah pasti diantar. Pulangnya kadang naik bemo, seringnya dijemput. 

Sebelum sekolah PPDS dulu, pas ke Jakarta pasti selalu nyobain transport umum disini, mulai dari transjakarta, MRT, dan kereta bandara. Waktunya terbatas jadi lebih sering milih transport yang pasti-pasti aja. Pas mulai sekolah dan sudah ada waktu untuk jalan-jalan, seneng banget bisa eksplor banyak tempat pakai transportasi umum mulai dari Jaklingko, TJ, KRL, MRT, dan LRT. Baru sadar, ternyata hidup di Jakarta memang ga semahal itu. Pas stase RSPAD, biasanya berangkat bareng teman sekosan. Tapi pas dia lagi jaga, aku jadi pulang sendiri naik TJ. Seru bangetttttt. Walopun ada nyasar-nyasarnya di awal. Tapi gapapa jadi belajar. Pas stase echo happy banget bisa dari kosan ke RSUI di Depok cuma 18ribu, soalnya naik KRL, turun di stasiun UI. Sampe di UI naik bis kuning gratis, jalan dikit, sampe RSUI. Luv. Pas stase pulmo, unlocked jaklingko GRATIS (selama ini gak nyadar kalo gratis, kalo mikrolet baru bayar cash. Tau gitu dari dulu gak usah ragu naik jaklingko ya). Soalnya di daerah RS Persahabatan kebanyakan jaklingko, ga ada transjakarta yang lewat. Tapi gapapa aku happy soalnya tiap kesana naik KRL. Gatau seneng aja rasanya berangkat kerja naik KRL. Mungkin karena aku naik di KRL yang ga se-pepes itu. Jadi happy-happy aja. Btw baru tadi pagi, di stasiun ada penumpang yang bertengkar karena rebutan masuk KRL yang memang sudah sesak banget. Ga kebayang sih jujur kalo mesti hunger games kayak gitu. 

Kata kuncinya memang kombinasi mahal-murah. Contoh: ke Blok M pulang pergi naik TJ, tapi bisa beli jajanan viral yang pricey. Nice















Jalan-jalan sendiri muterin Jakarta dengan harga murah itu terapeutik buat aku 🤍

Because this big city life won't last forever. 



btw I've started my social media detox yesterday! Jadinya akan lebih berisik disini hahahahaa




Rabu, Juni 11, 2025

Took it all away - Crossway


Soundtrack hidup Tya Juni 2025 wkwkwkw




Awalnya nangis tapi jadi ketawa karena BAPA bilang "kamu tau AKU gabakal ngambil semuanya. Selama ini kan kamu hidup di bawah langit yang terbuka, diatas tanah yang diberkati. You know how spoiled you are."

Memang tya agak ngelunjak, ga diturutin keinginannya satu aja ngambek hmm. Dasar manusia

2024

Back with another glimpse of stase tya 2024 (wohoo)

Started off 2024 with Echo
Salah satu stase terseru karena work life balancenya luv, bisa stase luar harkit alias jalan2 (apalagi aku ngatur biar pas minggu stase luar aku tidak jaga). Paling terluv bisa stase di RSUI, naik kereta ke depok tiap hari. Jalan-jalan muterin UI depok sampe gempor. Vibesnya mirip UB, bikin kangen Malang :')
Banyak nangisnya tapi gara2 dapat kabar ga lulus stase WKWKWKW (now i can laugh at it, tapi ga sih sampe detik ini aja walopun udah lewat ngulangnya masih tetap sedih kalo diingat).
Untung ujiannya aman, sekali doang terus dikasi PR, selesai. Luv echo dan konsulen2nya 🤍

Cath
Pas junior kerja-kerja-kerja-nontonmbaswift-kerja-kerja-kerja
-makaci sobat staseku-
Pas senior baru kerasa serunyaaa, datang-koro/Rhc-pulang. Puncaknya sehari ngerjain 8 koro. Mulai dari jam 8 pagi di cathlab IGD, sampai selesai pasien terakhir jam 8 malam. Hari itu literally ngerjain koro di (hampir) semua ruangan cath, dari IGD, kamar 1-3. Puji BAPA aman, lancar semua. Tya ga manggil bantuan sama sekali. 
Dan akhirnyaa bisa pulang ke Kupang beberapa hari, pertama kali pulang setelah 2.5 tahun pepedees. Too bad pas pulang lagi cantengan jadi gabisa main ke pantai dengan tenang (sungguh amat elit sakitnya cantengan hmmm)

CVC
Stase ini jadi awal mula stase marathon alias stase bangsal masuk senin-sabtu, cuti bersama juga masuk. Beberapa stase kedepan akan diawali (dan bahkan diakhiri) dengan penuh kecemasan dan ketakutan. 
Junior CVC jujur agak tercepot-cepot karena cuma junior yang masuk cuma berdua. Jadi kerjaan junior dibagi dua. Ilmunya juga jujur masih agak abstrak di otakku. Pengen banget belajar, pengen banget jadi pinter. Tapi capek...... Dan aku lagi ga fokus banget waktu itu. Mungkin aku aja yang selama ini pemalas. Tapi yuk bisa yuk belajar lebih rajin lagi. 

Ped part 2 
The reconciliation. Let go, let God. Lebih tenang, lebih sabar, lebih waras

IGD
Masuk IGD diawali dengan ketakutan. Beberapa hari rasanya kayak mau meledak dan marah-marah sepanjang hari. Marah kenapa ga habis-habis pasiennya. Kenapa harus banget dateng barengan di injury time. Sering banget overtime, karena manajemen waktuku juga kureng, masih banyak mikir, butuh banyak data untuk memutuskan. 
Masih denial juga kalo sekarang udah gabisa jadi zombie di IGD. Harus aku yang bikin keputusan mo diapain pasiennya. Paling pusing kalo dapat pasien baru, yang datang dengan kondisi jelek tanpa ada riwayat pengobatan apapun sebelumnya. Ato ada pengobatan tapi datang spontan uhuy tanpa persiapan. "Pasien apa ini, mo didiagnosa apa. Mo dikasi obat apa. Mo kabur aja tapi aku dokternya......" Pengennya dapat instruksi aja di IGD. Tapi sekarang harus beneran mikir. Mana aku kemaren kelamaan denialnya hmmmm sampe akhir stase baru nyadar dan berhenti denial hmmmmm. Agak telat tapi yaudah gapapa.
Tapi sejujurnya stase IGD lumayan enjoy karena hidup ada ritmenya. Pagi sudah pasti sarapan dan beli kopi. Soalnya jelas siang ga mungkin sempat makan. Teman stase juga baik, ga hitung-hitungan. Ya soalnya cuma berdua, jadi ya kalo ga aku, dia yang ngerjain, mo berharap siapa lagiiiiiiii
IGD diakhiri dengan lumayan bahagia dan lumayan percaya diri jadi EMG1 (sepertinya? wkwk)

Sabar, stase marathon masih belom kelar sampe Mei 2025. Yuk tarik napas panjanggggg
Anddd welcome to chief lifeee 

"Gimana rasanya back to back CVC-Ped-IGD-Chief Ped-Chief CVC-EP?" 
Capek tapi gapapa soalnya aku bisa nonton mba swift di Eras Tour WKWKWKW (kata kuncinya) 


Jakarta, 11 Juni 2025
Iya baru punya energi lagi untuk menyelesaikan postingan ini
Better late than never, ya kan?